Share this page

Laporan IFC menunjukkan bahwa UKM yang dimiliki wanita membutuhkan pembiayaan sebesar $6 milliar

Jakarta, Indonesia, Mei 2016 – IFC, anggota dari World Bank Group, mengeluarkan laporan yang menunjukkan bahwa Usaha Kecil dan Menengah yang dimiliki wanita di Indonesia mengalami kekurangan pembiayaan sebesar $6 milliar dalam membangun usaha mereka, yang merupakan kendala bagi mereka dalam berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara.
Wanita memiliki 51% usaha kecil dan 34% usaha menengah dari 706.000 dari UKM-UKM di negeri ini. Namun usaha milik wanita masih saja terkendala untuk mendapatkan pinjaman secara tidak proporsional  walaupun mereka sangat menarik sebagai pelanggan.  
Banyak bank yang ragu untuk memberi pinjaman kepada wanita dengan syarat pembiayaan yang tradisional karena wanita tidak memilki jaminan yang diminta, seperti harta terdaftar atas namanya sendiri. Hanya satu persen dari seluruh pinjaman kepada UKM di Indonesia yang bebas dari jaminan. Wanita juga mengatakan bahwa mereka menganggap prosedur perbankan itu memberatkan, dimana 40 persen mengatakan bahwa hal itu merupakan kendala dalam mengakses kredit, dibanding 28 persen pria.
Dengan tanggung jawab mereka terhadap keluarga dan urusan rumah tangga, wanita menghadapi tantangan-tantangan besar dalam mengelola usaha yang sukses.  Walaupun demikian, wanita lebih cenderung untuk mengembalikan pinjaman pada waktunya dan pada umumnya mereka bergerak di sektor-sektor yang patut untuk diberi pinjaman, sehingga tingkat gagal bayar mereka lebih rendah.  Lagipula, lebih banyak wanita yang mengkategorikan usaha mereka sebagai sangat menguntungkan, dibanding pria.
“Data laporan ini menunjukkan bahwa peran yang krusial ada di tangan lembaga keuangan untuk dapat membantu menambah pembiayaan yang dibutuhkan dan membuka akses yang lebih luas ke lembaga keuangan kepada wanita untuk membiayai dan mendorong usaha mereka,” ungkap Vivek Pathak, Direktur IFC, Asia Timur dan Pasifik.
Lembaga Keuangan yang dapat menawarkan rencana-rencana yang inovatif serta peka terhadap gender, misalnya produk pinjaman dengan persyaratan jaminan dan jadwal pembayaran pinjaman yang fleksibel, berada dalam posisi terbaik untuk memasuki pasar ini, sesuai temuan dalam laporan. Memberikan pelatihan dalam keterampilan berbisnis, mengakses informasi, dan kesempatan membentuk jaringan yang disediakan bagi wanita dapat membantu mereka yang memiliki usaha memperoleh kecakapan yang sangat berharga untuk mengembangkan usaha mereka, sekaligus memperbaiki akses mereka kepada pembiayaan.  Bank dapat juga bekerja sama dengan mitra eksternal dan sumber-sumber saluran penghubung alternatif seperti mobile banking dan internet banking untuk menjangkau para pengusaha wanita yang waktunya terbatas, secara lebih efektif.
Laporan ini merupakan bagian dari kemitraan IFC dengan Goldman Sachs Foundation dalam inisiatif 10,000 Women  - suatu inisiatif untuk menutup celah yang diperkirakan sebesar $285 milliar secara global bagi pengusaha wanita.  “Kami berharap untuk terus memperluas kemitraan dengan IFC di Indonesia untuk menanam modal di tangan para pengusaha wanita, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja ke depan,” kata Harry Naysmith, Pemimpin Goldman Sachs di Indonesia.
Di tahun 2014 IFC dan Goldman Sachs 10,000 Women melansir Fasilitas Kesempatan Bagi Pengusaha Wanita ( Women Entrepreneurs Opportunity Facility) yang didedikasikan untuk memperluas akses permodalan bagi hingga 100.000 pengusaha wanita. Hingga kini fasilitas tersebut telah memberi komitmennya senilai lebih dari $420 juta kepada 15 lembaga keuangan di tingkatan ekonomi berkembang dalam membantu 25.000 pengusaha wanita mengakses modal yang mereka butuhkan untuk menumbuhkan usahanya.
IFC bersama dengan USAID, sebagai mitra dalam pelaporan dan Golden Sachs 10,000 Women, akan membicarakan temuan kajian mereka dalam forum yang diberi judul “UKM Dengan Pemilik Wanita di Indonesia – Kesempatan Emas Untuk Lembaga Keuangan Lokal” (Women-owned SME’s in Indonesia – A Golden Opportunity for Local Financial Institutions) yang akan diadakan pada tanggal 24 Mei 2016 di Hotel Dharmawangsa. Jakarta.
Kajian dapat diakses di:
http://www.ifc.org/wps/wcm/connect/region  ext content/region/east+asia+and+the+pacific/publications/women-owned+smes+in+indonesia-a+golden+opportunity+for+local+financial+institutions
Tentang IFC
IFC, anggota dari World Bank Group, adalah lembaga terbesar untuk pembangunan global yang fokus pada sektor swasta di negara-negara berkembang.  Bekerja sama dengan lebih dari 2000 perusahaan diseluruh dunia, kami menggunakan modal, keahlian, serta pengaruh kami, untuk menciptakan kesempatan dimana paling dibutuhkan.  Di FY15, investasi jangka panjang kami di negara-negara berkembang meningkat hingga hampir $18 millyar, membantu sektor swasta memainkan peranan yang essensial dalam upaya global untuk mengakhiri  kemiskinan yang paling buruk dan meningkatkan berbagi dalam kesejahteraan.  Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.ifc.org .
Terus hubungi kami di:
Tentang Goldman Sachs 10,000 Women
Inisiatif The Goldmand Sachs 10,000 Women adalah suatu gerakan untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi dengan menyediakan edukasi tentang berbisnis dan manajemen serta akses pada permodalan bagi pengusaha wanita di seluruh dunia.  Inisiatif ini telah mencapai wanita di 56 negara melalui jaringan dari 100 akademisi, lembaga nirlaba, dan mitra bank. Dalam kemitraan dengan International Finance Corporation (IFC)  Goldman Sachs 10,000 Women melansir fasilitas keuangan global – yang pertama semacam itu di tahun 2014 untuk memberi kemampuan kepada hampir 100,000 pengusaha wanita dalam mendapatkan modal.